Tengah hari dikota Jakarta terasa begitu panas saat matahari berpijar dan membakar dirinya ditengah petala langit dari detik ke detik , ditambah lagi hembusan angin yang menyapu jalan – jalan kota turut serta dan menyebabkan debu bergulung – gulung menambah ketidak asrian Jakarta yang dihuni oleh jutaan penduduk yang berasal dari berbagai daerah meski tidak sedikit juga penduduk pribumi yang menetap di kota ini ,hanya saja kebanyakan dari mereka adalah orang – orang desa yang merantau dari berbagai daerah yang terdapat di Indonesia dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik bila mereka datang ke Jakarta padahal mereka belum mengetahui secara pasti tentang kerasnya kehidupan dikota Jakarta dan banyak dari mereka hanya bermodal nekat saja untuk datang dan menjajal kerasnya kehidupan kota tanpa bekal pendidikan ataupun bekal kemampuan yang memadai untuk bertarung ditengah kerasnya persaingan kota yang disebut – sebut sebagai kota metropolitan dan ibukota Negara republik Indonesia ini . sehingga sebagian besar dari mereka yang gagal akhirnya hanya menjadi pengemis atau gembel – gembel yang berkeliaran di sudut – sudut kota mulai dari utara sampai selatan bahkan tidak sedikit juga yang akhirnya menjadi pencuri atau perampok sehingga kejahatanpun tidak dapat terhindarkan dan sulit untuk di berantas.
Aku sendiri adalah seorang imigran yang berasal dari sumedang jawa barat dan semenjak delapan tahun lalu aku sudah menetap dijakarta saat usiaku masih berumur satu tahun . saat itu ayahku yang bekerja di salah satu perusahaan besar yang bergerak dibidang produksi melamin diperintahkan untuk berpindah tugasdari sumedang menuju Jakarta oleh perusahaan tempat ia bekerja karena perusahaan tersebut membuka cabang baru di Jakarta dan beliau mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai manager produksi dicabang baru perusahaanya yang terdapat dikota Jakarta sehingga kami sekeluarga terpaksa harus pindah dan menjajal persaingan ketat di kota Jakarta .
sebelum kami pindah ayah telah menyediakan rumah untuk kami tinggal dan menetap dikota jakarta ini . beliau membeli rumah tersebut dengan uangnya sendiri dan tidak mengandalkan uang perusahaan. meski perusahaan tempatnya bekerja bersedia menyediakan rumah untuk kami untuk kami dengan fasilitas yang cukup mewah tapi beliau tak segan untuk menolaknya dengan alasan yang cukup masuk akal . saat ia berkata “seperti halnya manusia yang pasti akan kembali kepada yang telah menciptakanya , harta yang mereka titipkan juga pasti akan kembali kepada mereka yang memilikinya setelah aku tidak bekerja diperusahaan tersebut . oleh karena itu aku lebih memilih untuk membeli rumah yang sederhana ini karena biarpun kecil tapi rumah ini milik kita sendiri”.Aku sendiri adalah seorang imigran yang berasal dari sumedang jawa barat dan semenjak delapan tahun lalu aku sudah menetap dijakarta saat usiaku masih berumur satu tahun . saat itu ayahku yang bekerja di salah satu perusahaan besar yang bergerak dibidang produksi melamin diperintahkan untuk berpindah tugasdari sumedang menuju Jakarta oleh perusahaan tempat ia bekerja karena perusahaan tersebut membuka cabang baru di Jakarta dan beliau mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai manager produksi dicabang baru perusahaanya yang terdapat dikota Jakarta sehingga kami sekeluarga terpaksa harus pindah dan menjajal persaingan ketat di kota Jakarta .
Memang saat ayah masih bekerja di perusahaan tersebut kebutuhan kami sangat tercukupi dan dipenuhi oleh kemewahan tetapi kemewahan saja tak cukup untuk mendapatkan suatu kebahagiaan yang hakiki. saat ini ayah telah berhenti bekerja di perusahaan yang pernah membuat kami mapan karena ada masalah internal yang dialaminya saat itu , ada salah satu rekan kerja ayah yang menuduhnya telah mencuri uang perusahaan sebesar lima puluh juta rupiah walaupun pada akhirnya hal yang dituduhkan pada ayah tidak terbukti kebenaranya karena yang sebenarnhya telah mencuri uang tersebut adalah rekan kerja yang telah menuduhnya melakukan perbuatan keji tersebut . seperti kata pepatah “ lempar batu sembunyi tangan"begitulah sifat rekan kerja ayah yang telah menuduhnya mencuri padahal yang sebenarnya telah mencuri adalah dirinya sendiri tetapi ia malah mengkambing hitamkan ayah sebagai pencurinya. beruntung beliau saat ini telah ditangkap dan di proses secara hukum atas kesalahan yang telah diperbuatnya
Sebenarnya pihak perusahaan tidak pernah memberhentikan ayah dari posisi yang dipegangya pada saat itu . tetapi karena ayah merasa tidak enak kepada rekan kerjanya yang sekarang telah mendekam didalam penjara akhirnya ayah memundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan lebih memilih menjadi seorang entrepreneur .saat ia berhenti bekerja ia berniat untuk menjual mobil kesayangan yang dimilikinya pada saat itu untuk membuka sebuah usaha pabrik sepatu yang akan ia bangun dari nol . tetapi sebelum ia dapat memulai usahanya ia harus merelakan uang hasil penjualan mobil yang dimilikinya di rampok oleh orang yang tidak dikenalnya . dengan begitu teganya perampok menodongkan senjata api ke kepala ayah ku dan meminta beliau untuk menyerahkan semua uang yang dibawanya saat ia berniat untuk menyimpan uang dari hasil penjualan mobil tersebut ke bank dan sebelum sampai ke bank beliau dipaksa harus merelakan uang miliknya kepada para perampok bersenjata tersebut .
Akhirnya rencana yang telah ia susun rapi harus gagal karena ulah perampok . meskipun ayahku telah gagal tapi aku masih tetap bangga kepada ayah yang tak kenal lelah dan pantang menyerah karena walau uangnya dicuri beliau masih tetap bias membangun usaha kecil pada bidang bengkel las dari hasil sisa gajinya dibulan kemarin saat ia memundurkan diri dari perusahaan , keterampilan dalam bidang usaha yang sedang dibangunya sekarang ia pelajari saat ia masih bersekolah di salah satu STM yang berada di sumedang jawa barat . usaha bengkel las yang sedang dijalani ayah sekarang ini bergerak pada bidang jasa pembuatan pagar baja , teralis pintu , teralis jendeka , kaponi dan lain lain. Meski pada bidang usaha bengkel las ini hanya tergolong pada bidang usaha kecil dan penghasilanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari – hairi aku tetap bangga kepada ayah yang tak kenal lelah dan pantang menyerah.
Hari ini adalah hari minggu yaitu hari dimana aku libur sekolah dan dapat membantu ayah mengerjakan pesanan pagar baja yang dipesan oleh salah satu konsumenya karena selama ini ayah hanya bekerja sendiri dan belum mampu mempekerjakan karyawan untuk membantu menyelesaikan pekerjaanya jadi setiap pulang sekolah ataupun saat liburan aku selalu enyempatkan diri untuk membantu ayah . walaupun usiaku pada saat ini baru menginjak pada umur Sembilan tahun tapi aku telah bias menggunakan alat gerinda dan mesin las dengan cukup baik karena kegigihanku yang selalu minta diajari oleh ayah dan ayah tak pernah segan untuk mengajariku tata cara menggunakan alat alat tersebut .
Sebenarnya ibu sedikit tidak setuju dan agak khawatir saat aku membantu ayah mengerjakan pekerjaan yang tidak selayaknya dikerjakan oleh anak kecil sepertiku tapi aku tetap membandel dan nekat untuk terus membantu ayah mnyelesaikan pekerjaanya . karena menurutku aku akan bisa menambah ilmu pengetahuan dalam hal bidang usaha yang digeluti oleh ayah sejak dini , karena ada pepatah lama yang mengatakan “ belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu sedangkan belajar diwaktu besar bagai mangukir diatas air” kata – kata itu adalah kata – kata yang pernah terlontar dari mulut guruku saat aku bersekolah dan sampai sekarang aku tidak pernah melupakan kata – kata tersebut , bahkan kata – kata itu aku jadikan sebagai motivasi hidup untuk terus belajar , belajar , dan belajar selama hal yang diajarkan itu masih merupakan hal yang positif aku tidak pernah segan untuk mempelajarinya karena belajar merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup manusia .
Adalah sutrisna nama asli ayah yang selalu menjadi inspirasiku dan telah mengajarkanku banyak hal memanggil- manggil namaku ...
“arif ,arif,arif?? Tolong besi yang tadi sudah ayah las kamu gerinda dan bersihkan sisa – sisa lasanya!”
…perintahnya…
“baik yah..”
“agak sedikit cepat ya nak karena besok harus sudah selesai dan diantar kepada pemesan”
…perintahnya kembali…
“iya ayah.”
…jawabku singkat…
Dengan perasaan senang aku meakukan apa yang telah diperintahkan ayah kepadaku walaupun sebenarnya pekerjaan ini tergolong berat untuk anak seusiaku tapi aku tetap melakoni hal yang telah diperintahkan ayah dengan hati kembira dan disaat jari jemariku mulai menari menyusuri sela – sela besi yang sedang aku gerinda tiba – tiba gerinda yang aku pegang terlepas dan menyentuh jari telunjuku hingga melukainya . aku menangis berteriak –teriak karena rasa perih akibat luka gores yang ditimbulkan oleh sentuhan gerinda itu mengeluarka darah yang sangat banyak sekali . ayah yang melihat keadaanku langsung menghampiri dan melihat luka yang aku alami , dan tanpa banyak bicara lagi ayah berlari ke dapur untuk mengambil obat yang terdapat di kotak obat yang terletak di dapur dan segera mengobatiku dengan penuh kelembutan dengan meneteskan obat merah yang teklah diambilnya kearah jari telunjuku yang tergores luka dan lantas ayah mengambil perban kemudian membungkus lukaku dengan perban tersebut . setelah selesai mengobatiku ayah menyuruhku untuk beristirahat dan dirumah hingga luka gores akibat terkena gerinda yang menyentuh tanganku sembuh..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar