kupampang sebuah bulan yang bergerak lamban dengan raut wajah tenang
lambat dan semakin lambat dan akhirnya yang kutunggu datang dengan
secerca harapan di hamparan ilalang
tapi apa yang kudapat?
aku terpaku pada desember malang tanpa ada yang mengucapkan selamat..
yang ada hanyalah penat dan air mata yang menyapu pekat
mana hadiah yang biasa kudapat? kini tak satupun tampak, mana yang
disebut bahagia? ini adalah siksa dimana air mata menjadi saksinya
siapa yang peduli sekarang pada aku di desember malang dan kemudian hilang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar