Rabu, 03 Oktober 2012

jatuh cinta itu biasa saja


Sekitar pukul tiga sore, perjalanan menuju Gajeboh Baduy luar baru akan di laksanakan. Sebelum perjalanan tersebut di mulai, para murid dan para wali kelas diwajibkan untuk berdo’a sesuai dengan agamanya masing-masing agar mereka semua di berikan keselamatan saat di perjalanan menuju Gajeboh Baduy luar.
Oke, sekarang saatnya bagi siswa-siswi SMAN 95 untuk menempuh perjalanan dari terminal Ci Boleger menuju Gajeboh dengan berjalan santai.
Kiditz, Mamet, Gono, Welly, Dika dan Ucok telah bersatu kembali dalam sebuah kelompok. sebelum mereka berangkat, mereka membeli bambu yang berfungsi untuk mempermudah pendakian dari bocah-bocah yang berjualan bambu di terminal Ci Boleger. Sementara barang bawaan yang mereka bawa, telah di titipkan kepada poter yang bersedia membawakan barang-barang mereka sampai rumah suku Baduy luar hanya dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja perorangnya.
Yapz benar, sejak siswa-siswi sampai di Baduy terminal Baduy (Ci Boleger) para potter dan para bocah yang berjualan bambu sudah berebut mendekati kami untuk berjualan dan menawarkan jasa angkat barang. Ajii mumung ni yee ha…ha…ha…
***
Perjalanan yang penuh tantangan, baru akan di mulai nanti setelah memasuki jalan setapak yang curam. Kiditz, Mamet, Dika, Ucok, Welly dan Gono sudah mulai melangkahkan kakinya mengikuti para wali kelas dan pemandu wisata yang sudah jalan duluan. Saat memasuki jalur yang licin, tiba-tiba saja Nisa yang tadi sudah memisahkan diri dari Kiditz datang kembali dan meminta Kiditz untuk berjalan bersamanya.
“Ditz, jalan bareng gue lagi yuk!”
“Loh, emangnya kenapa Nis?” Sahut Kiditz
“Abisnya gue takut Ditz, Jalannya berlumpur udah gitu licin aja gak pake banget.” 
Sebelum Kiditz menjawab pertanyaan Nisa, tiba-tiba saja Welly memotong pembicaraan mereka.
“Cie, Nisa pengen minta jagain sama Kiditz ni yee! Ha… ha… ha…” ungkap Welly meledek.
“Cie-cie Nisa, ha… ha…ha…” Tiba-tiba saja Gono, Dika, Ucok dan Mamet juga ikut meledek Nisa.
Melihat Nisa di ledek teman-temannya, Kiditz tidak tinggal diam.
“Apaan sih kalian! enggak lucu benget deh” Ungkap Nisa sedikit kesal
“Udah ah jangan diledekin terus, kasian tau!” Tambah Kiditz membela Nisa.
“Yaudah Nis, lu jalan sama gue aja. Lagian, takutnya lu kenapa-napa doang kalo jalan sendirian J.”
“Makasih ya Ditz, sumpah lu tuh Modus banget. he…he…he…!” Sahut nisa sambil tersenyum-senyum sendiri.
Melihat Kiditz yang memberikan perhatian  berlebih terhadap Nisa. Anggota kumjong sejenis Mamet, Welly, Ucok, Gono dan Dika semakin meledek mereka berdua.
Ceileh! Kiditz dapet cewe di Baduy ni yee. Ntar pulang bisa nulis novel Baduy ‘In Heart’ nih kayanya. He… he… he…”
Hust, apaan sih kalian?” Sahut Kiditz.
***
Kemudian, Kiditz dan Nisa memisahkan diri dari anggota geng kumjong. Seperti muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan melawan hujan dan juga licinnya jalan. Mendaki gunung seolah tanpa hambatan, lalui rintangan beserta jurang seolah tanpa beban. Ya, begitulah hebatnya cinta. So sweeett boo!! ~Preeettt lah…
Jalanan mendaki di sertai hujan lebat cukup menghambat perjalanan mereka untuk sampai di Gajeboh. Kiditz menggenggam erat-erat tangan Nisa seolah tak ingin melepasnya. Ia menjaga Nisa seolah Nisa adalah miliknya dan ia tidak ingin terjadi sesuatu apapun terhadap Nisa. Padahal, ketika di sekolah, Kiditz jarang sekali terlihat dekat dengan Nisa apalagi sampai seakrab ini. ~cit cuittt pasti dag dig dug tuh hatinya he…he…he…
Di perjalanan, Nisa menceritakan banyak hal tentang dirinya kepada Kiditz. Termasuk tentang hubungannya dengan pacarnya yang saat ini sedang renggang karena rasa saling tidak percaya.
“Jujur yah ditz, gue masih sayang banget sama dia, dan gue enggak mau kehilangan dia. Soalnya, banyak banget kenangan yang pernah gue alamin sama pacar gue waktu kita masih saling mengerti Ditz. Percuma aja dong dua taun kita pacaran kalo endingnya engga jelas kaya gini.” Ungkap Nisa panjang lebar.
 “Yaudah lah Nis, lu  sabar aja, kalo emang dia itu jodoh lu, pasti bakal balik lagi kok. So, woles aja lagi.”  Sahut Kiditz.
“Iya deh Ditz, gue bakal sabar  ngadepinnya.  *Eh Ditz, gue boleh nanya satu hal ga sama lu?”
“Apa?”
“Kalo menurut lu, jatuh cinta itu apa sih?”
Kiditz merasa sedikit kebingungan ketika ditanyakan hal tentang cinta oleh Nisa. Karena ia sendiri, belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta sebelumnya. Tapi, setelah berfikir sejenak, akhirnya Kiditz mampu menjawab pertanyaan Nisa.
“Kalo menurut gue, jatuh cinta itu biasa saja Nis.”
“Maksudnya?”
“Iya, jatuh cinta itu biasa saja Nis, karena kita hanya perlu berpegangan tangan tanpa harus berpelukan, Tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti, tak perlu mengikat janji tapi saling memahami, hanya perlu bercerita tanpa harus meniduri (tuh denger tuh yang doyan tiduran). Ya begitulah hal yang gue tau tentang cinta Nis.” Ungkap kiditz menghentikan langkah sejenak sambil menatap wajah Nisa.
“Gila Ditz, lu romantis banget, sampe galau gue dengernya.” Jawab Nisa kagum.
Ah, biasa aja si Nis, engga usah lebai gitu deh,” Si Kiditz jadi salah tingkah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar