Sekitar
pukul tiga sore, perjalanan menuju Gajeboh Baduy luar baru akan di laksanakan.
Sebelum perjalanan tersebut di mulai, para murid dan para wali kelas diwajibkan
untuk berdo’a sesuai dengan agamanya masing-masing agar mereka semua di berikan
keselamatan saat di perjalanan menuju Gajeboh Baduy luar.
Oke, sekarang saatnya bagi siswa-siswi
SMAN 95 untuk menempuh perjalanan dari terminal Ci Boleger menuju Gajeboh
dengan berjalan santai.
Kiditz, Mamet, Gono, Welly, Dika dan
Ucok telah bersatu kembali dalam sebuah kelompok. sebelum mereka berangkat,
mereka membeli bambu yang berfungsi untuk mempermudah pendakian dari
bocah-bocah yang berjualan bambu di terminal Ci Boleger. Sementara barang
bawaan yang mereka bawa, telah di titipkan kepada poter yang bersedia membawakan barang-barang mereka sampai rumah
suku Baduy luar hanya dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja perorangnya.
Yapz
benar, sejak siswa-siswi sampai di
Baduy terminal Baduy (Ci Boleger) para potter dan para bocah yang berjualan
bambu sudah berebut mendekati kami untuk berjualan dan menawarkan jasa angkat
barang. Ajii mumung ni yee ha…ha…ha…
***
Perjalanan yang penuh tantangan, baru
akan di mulai nanti setelah memasuki jalan setapak yang curam. Kiditz, Mamet,
Dika, Ucok, Welly dan Gono sudah mulai melangkahkan kakinya mengikuti para wali
kelas dan pemandu wisata yang sudah jalan duluan. Saat memasuki jalur yang
licin, tiba-tiba saja Nisa yang tadi sudah memisahkan diri dari Kiditz datang
kembali dan meminta Kiditz untuk berjalan bersamanya.
“Ditz, jalan bareng gue lagi yuk!”
“Loh, emangnya kenapa Nis ?” Sahut Kiditz
“Abisnya gue takut Ditz, Jalannya
berlumpur udah gitu licin aja gak
pake banget.”
Sebelum Kiditz menjawab pertanyaan Nisa,
tiba-tiba saja Welly memotong pembicaraan mereka.
“Cie, Nisa pengen minta jagain sama
Kiditz ni yee! Ha… ha… ha…” ungkap Welly meledek.
“Cie-cie Nisa, ha… ha…ha…” Tiba-tiba saja Gono, Dika, Ucok dan Mamet juga ikut
meledek Nisa.
Melihat Nisa di ledek teman-temannya,
Kiditz tidak tinggal diam.
“Apaan sih kalian! enggak lucu benget deh” Ungkap Nisa
sedikit kesal
“Udah ah jangan diledekin terus, kasian
tau!” Tambah Kiditz membela Nisa.
“Yaudah Nis, lu jalan sama gue aja. Lagian,
takutnya lu kenapa-napa doang kalo jalan sendirian J.”
“Makasih ya Ditz, sumpah lu tuh Modus
banget. he…he…he…!” Sahut nisa sambil
tersenyum-senyum sendiri.
Melihat Kiditz yang memberikan
perhatian berlebih terhadap Nisa. Anggota
kumjong sejenis Mamet, Welly, Ucok, Gono dan Dika semakin meledek mereka berdua.
“Ceileh!
Kiditz dapet cewe di Baduy ni yee.
Ntar pulang bisa nulis novel Baduy ‘In Heart’ nih kayanya. He… he… he…”
“Hust,
apaan sih kalian?” Sahut Kiditz.
***
Kemudian, Kiditz dan Nisa memisahkan
diri dari anggota geng kumjong. Seperti
muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan
melawan hujan dan juga licinnya jalan. Mendaki gunung seolah tanpa hambatan,
lalui rintangan beserta jurang seolah tanpa beban. Ya, begitulah hebatnya
cinta. So sweeett boo!! ~Preeettt lah…
Jalanan mendaki di sertai hujan lebat
cukup menghambat perjalanan mereka untuk sampai di Gajeboh. Kiditz menggenggam
erat-erat tangan Nisa seolah tak ingin melepasnya. Ia menjaga Nisa seolah Nisa
adalah miliknya dan ia tidak ingin terjadi sesuatu apapun terhadap Nisa.
Padahal, ketika di sekolah, Kiditz jarang sekali terlihat dekat dengan Nisa
apalagi sampai seakrab ini. ~cit cuittt
pasti dag dig dug tuh hatinya he…he…he…
Di perjalanan, Nisa menceritakan banyak
hal tentang dirinya kepada Kiditz. Termasuk tentang hubungannya dengan pacarnya
yang saat ini sedang renggang karena rasa saling tidak percaya.
“Jujur yah ditz, gue masih sayang banget
sama dia, dan gue enggak mau kehilangan dia. Soalnya, banyak banget kenangan
yang pernah gue alamin sama pacar gue waktu kita masih saling mengerti Ditz.
Percuma aja dong dua taun kita pacaran kalo endingnya
engga jelas kaya gini.” Ungkap Nisa panjang lebar.
“Yaudah lah Nis , lu
sabar aja, kalo emang dia itu jodoh lu, pasti bakal balik lagi kok. So, woles aja lagi.” Sahut Kiditz.
“Iya deh Ditz, gue bakal sabar ngadepinnya.
*Eh Ditz, gue boleh nanya satu
hal ga sama lu?”
“Apa?”
“Kalo menurut lu, jatuh cinta itu apa
sih?”
Kiditz merasa sedikit kebingungan ketika
ditanyakan hal tentang cinta oleh Nisa. Karena ia sendiri, belum pernah
merasakan yang namanya jatuh cinta sebelumnya. Tapi, setelah berfikir sejenak,
akhirnya Kiditz mampu menjawab pertanyaan Nisa.
“Kalo menurut gue, jatuh cinta itu biasa
saja Nis .”
“Maksudnya?”
“Iya, jatuh cinta itu biasa saja Nis,
karena kita hanya perlu berpegangan tangan tanpa harus berpelukan, Tak pernah
ucapkan maaf tapi saling mengerti, tak perlu mengikat janji tapi saling
memahami, hanya perlu bercerita tanpa harus meniduri (tuh denger tuh yang doyan tiduran). Ya begitulah hal yang gue tau
tentang cinta Nis .”
Ungkap kiditz menghentikan langkah sejenak sambil menatap wajah Nisa.
“Gila Ditz, lu romantis banget, sampe galau gue dengernya.” Jawab Nisa kagum.
“Ah,
biasa aja si Nis ,
engga usah lebai gitu deh,” Si Kiditz
jadi salah tingkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar