Dunia
seakan berhenti ketika detik sudah tidak ada artinya lagi. Semuanya menjauh dan
tidak ada yang perduli. Tubuh ini melemah, menyerah dan pasrah pada keadaan.
Dingin rasanya saat tidak satupun mampu menghempaskan sepi. Aku putus asa, aku menyerah,
dan aku sudah mati di antara bayang-bayang dunia yang sempit ini. Hidup, memang
penuh dengan sekat-sekat yang membedakan antara satu sama lain. Sejak aku
dilahirkan, aku memang selalu berbeda dari manusia sempurna yang lainnya. Aku
memang memiliki tangan dan kaki, tapi tidak pernah tahu harus digunakan untuk
apa kedua tangan dan kakiku ini.
Hidup normal tapi seakan cacat
karena aku tidak pernah tahu apa arti dari hidup ini. Dari awal kehidupanku di
bumi, aku tidak pernah memiliki alasan untuk apa aku bertahan, untuk siapa aku
hidup dan dari siapa aku dilahirkan. Aku ini hanya seperti hantu kesepian yang
tidak membutuhkan daratan untuk berjalan, hanya melayang dan terbang tanpa
tujuan. Tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Setiap malam, aku selalu bertanya
kepada gelap tentang diriku sendiri. “Wahai gelap. Siapakah diriku ini? Aku
tidak pernah mengetahuinya. Wahai gelap, kenapa aku ada disini? Aku tidak
pernah memiliki alasannya”. Sudah berulang kali aku mencoba bunuh diri karena
aku tidak pernah tahu siapa aku yang sebenarnya. Tapi semua usahaku untuk
mengakhiri hidup selalu gagal karena selalu saja ada yang menghalangi.
Terakhir, ketika aku mencoba untuk gantung diri, tali yang aku gunakan untuk
gantung diri itu sudah terlalu keropos dan tidak kuat untuk menahan tubuhku,
sampai-sampai tali itu putus dan aku gagal untuk mati.
Selama ini, aku selalu hidup dalam
kesendirian, aku makan untuk diriku sendiri, aku minum untuk diriku sendiri,
aku berjuang untuk diriku sendiri, aku bersekolah untuk diriku sendiri, dan aku
bekerja juga untuk diriku sendiri. Selama aku bersekolahpun, aku tidak pernah
memiliki teman. Bayangkan saja, sejak dari Sekolah Dasar sampai sekarang,
katika aku sudah menginjak jenjang Sekolah Menengah Atas, aku tidak pernah
mengenal siapapun dan tidak pernah dikenal oleh siapapun.
Bagi mereka, aku ini hanyalah
pengecualian yang patut diabaikan. Tidak ada orang yang mau mengenal manusia
yang hidupnya sebatang kara sepertiku. semua usahaku terlihat percuma karena
tidak ada seorangpun yang mau peduli. Buat apa aku bekerja keras untuk bertahan
hidup? Buat apa aku mengamen untuk dapat bersekolah jika semuanya seperti ini. “Tuhan,
maafkan aku, aku sudah tidak tahan hidup di dunia ini. Rasanya, mati itu lebih
baik daripada harus hidup seperti ini. Aku berjanji, ini adalah usaha
terakhirku untuk mengakhiri hidup. Jika kali ini masih gagal, aku tidak akan
pernah mencobanya lagi, dan engkau berhak mencabut ijinku untuk bunuh diri
selama-lamanya”.
Tekad ku untuk bunuh diri akan aku lakukan sepulang sekolah nanti.
Biarpun aku tahu bunuh diri itu dosa, tapi aku harus tetap melakukannya, dan
ini untuk yang terakhir kalinya.
Waktu telah menunjuk pada pukul tiga sore dan bell pulang sekolah
yang aku tunggu sejak dari tadi juga telah berbunyi. Sekarang sudah waktunya
untuk pulang. Dengan masih menggunakan seragam sekolah, aku berjalan lambat
menyusuri jalan-jalan Jakarta yang semerawut nan terlihat kacrut. Didalam hati,
aku berkata “Kali ini, aku harus berhasil mati. Karena jika kali ini aku gagal
mati, secara otomatis tuhan akan mencabut ijin akses ku untuk bunuh diri
selamanya”.
Tepat pukul lima sore, aku sudah sampai di lantai paling atas dari
sebuah gedung yang berada di Kawasan Jakarta barat. Dari atas sini, aku dapat
melihat ke semerawutan Ibu Kota yang sudah semakin padat ini. Di jam-jam pulang
kerja seperti sekarang ini, terlihat jelas betapa kacaunya kemacetan di Ibu
kota Negara Republik Indonesia ini.
Sebelum aku bunuh diri, aku berteriak sekencang-kencangnya untuk
melepaskan semua rasa kesalku terhadap dunia yang tidak pernah adil. aku
berdiri sambil menatap matahari membayangkan aku dapat pergi dengan tenang hari
ini. Mungkin esok aku tidak akan dapat menatap matahari lagi. Makanya, sebelum
aku mati, aku mau menikmati prominensamu matahari untuk yang terakhir kalinya.
Meradang diantara pikiran kosong, aku mulai menutup mata dan
menghitung mundur dari hitungan tiga sampai hitungan satu sebelum akhirnya aku
menjatuhkan diri dari atas gedung ini.
“Pengecut!”
Anjrit, ada seseorang yang memukul kepalaku dari belakang sambil
mengatakan bahwa aku ini pengecut. Aku sangat marah diperlakukan seperti ini,
berani-beraninya orang ini memukul kepalaku dan menggagalkan aksi bunuh diri ku
yang terakhir.
“Hey, siapa kamu? Berani-beraninya kamu memukul kepalaku dan bilang
kalau aku ini pengecut!” Ungkapku marah.
“Terus, apa lagi namanya kalau bukan pengecut? Lu tau gak, apa yang
mau lu lakuin barusan itu udah membuktikan kalau lu itu memang bener-bener
pengecut. Hari gini mau bunuh diri hanya karena suatu masalah, enggak banget
deh lu”
Shit, aku baru sadar bahwa baru saja aku berbicara dengan seorang
perempuan. Demi mendapat penjelasan apakah wanita ini benar-benar berbicara
denganku atau tidak, aku langsung bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang
cukup bodoh.
“Apa kamu berbicara denganku?”
“Yaiyalah, apa ada orang lain disini selain kamu?”
“Enggak ada sih, tapi aku masih belum percaya kalau kamu
bener-bener ngomong sama aku.” Sahut ku.
“Are you crazy? Baru aja gue marah-marah sama lu dan bilang kalo lu
itu pengecut, terus lu bilang kalo lu gak percaya kalo gue ngomong sama lu? Bener-bener
udah gila nih cowok.”
Lantas, wanita itu pergi meninggalkanku sendiri. Dan fix, lagi-lagi
aku gagal bunuh diri karena kedatangannya yang secara tiba-tiba dan marah-marah
sedemikian rupa. Hmm, padahal ini adalah izin terakhirku untuk dapat
bunuh diri. Lagi-lagi, tuhan tidak mengizinkanku untuk mati.
Entah harus senang atau
sedih karena gagal bunuh diri. Yang jelas, ini adalah hari pertamaku
bercengkerama dengan seseorang. Apalagi, orang yang tadi berbicara dengan ku
adalah sosok wanita cantik yang telah menggagalkan aksi bunuh diriku. Andaikan dia
tahu, kenapa aku jadi bersikap aneh saat ia memarahiku. Itu semua karena dia
adalah orang yang pertama berbicara denganku selain guru-guruku disekolah.
Dengan terpaksa aku harus pulang ke rumah kost yang aku tempati
sendiri dengan membawa tubuhku ini. Padahal, aku berharap agar aku dapat pulang
kesini dengan hanya membawa nama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar