Jumat, 18 Januari 2013

Try To Die



Dunia seakan berhenti ketika detik sudah tidak ada artinya lagi. Semuanya menjauh dan tidak ada yang perduli. Tubuh ini melemah, menyerah dan pasrah pada keadaan. Dingin rasanya saat tidak satupun mampu menghempaskan sepi. Aku putus asa, aku menyerah, dan aku sudah mati di antara bayang-bayang dunia yang sempit ini. Hidup, memang penuh dengan sekat-sekat yang membedakan antara satu sama lain. Sejak aku dilahirkan, aku memang selalu berbeda dari manusia sempurna yang lainnya. Aku memang memiliki tangan dan kaki, tapi tidak pernah tahu harus digunakan untuk apa kedua tangan dan kakiku ini.
            Hidup normal tapi seakan cacat karena aku tidak pernah tahu apa arti dari hidup ini. Dari awal kehidupanku di bumi, aku tidak pernah memiliki alasan untuk apa aku bertahan, untuk siapa aku hidup dan dari siapa aku dilahirkan. Aku ini hanya seperti hantu kesepian yang tidak membutuhkan daratan untuk berjalan, hanya melayang dan terbang tanpa tujuan. Tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
            Setiap malam, aku selalu bertanya kepada gelap tentang diriku sendiri. “Wahai gelap. Siapakah diriku ini? Aku tidak pernah mengetahuinya. Wahai gelap, kenapa aku ada disini? Aku tidak pernah memiliki alasannya”. Sudah berulang kali aku mencoba bunuh diri karena aku tidak pernah tahu siapa aku yang sebenarnya. Tapi semua usahaku untuk mengakhiri hidup selalu gagal karena selalu saja ada yang menghalangi. Terakhir, ketika aku mencoba untuk gantung diri, tali yang aku gunakan untuk gantung diri itu sudah terlalu keropos dan tidak kuat untuk menahan tubuhku, sampai-sampai tali itu putus dan aku gagal untuk mati.
            Selama ini, aku selalu hidup dalam kesendirian, aku makan untuk diriku sendiri, aku minum untuk diriku sendiri, aku berjuang untuk diriku sendiri, aku bersekolah untuk diriku sendiri, dan aku bekerja juga untuk diriku sendiri. Selama aku bersekolahpun, aku tidak pernah memiliki teman. Bayangkan saja, sejak dari Sekolah Dasar sampai sekarang, katika aku sudah menginjak jenjang Sekolah Menengah Atas, aku tidak pernah mengenal siapapun dan tidak pernah dikenal oleh siapapun.
            Bagi mereka, aku ini hanyalah pengecualian yang patut diabaikan. Tidak ada orang yang mau mengenal manusia yang hidupnya sebatang kara sepertiku. semua usahaku terlihat percuma karena tidak ada seorangpun yang mau peduli. Buat apa aku bekerja keras untuk bertahan hidup? Buat apa aku mengamen untuk dapat bersekolah jika semuanya seperti ini. “Tuhan, maafkan aku, aku sudah tidak tahan hidup di dunia ini. Rasanya, mati itu lebih baik daripada harus hidup seperti ini. Aku berjanji, ini adalah usaha terakhirku untuk mengakhiri hidup. Jika kali ini masih gagal, aku tidak akan pernah mencobanya lagi, dan engkau berhak mencabut ijinku untuk bunuh diri selama-lamanya”.
Tekad ku untuk bunuh diri akan aku lakukan sepulang sekolah nanti. Biarpun aku tahu bunuh diri itu dosa, tapi aku harus tetap melakukannya, dan ini untuk yang terakhir kalinya.
Waktu telah menunjuk pada pukul tiga sore dan bell pulang sekolah yang aku tunggu sejak dari tadi juga telah berbunyi. Sekarang sudah waktunya untuk pulang. Dengan masih menggunakan seragam sekolah, aku berjalan lambat menyusuri jalan-jalan Jakarta yang semerawut nan terlihat kacrut. Didalam hati, aku berkata “Kali ini, aku harus berhasil mati. Karena jika kali ini aku gagal mati, secara otomatis tuhan akan mencabut ijin akses ku untuk bunuh diri selamanya”.
Tepat pukul lima sore, aku sudah sampai di lantai paling atas dari sebuah gedung yang berada di Kawasan Jakarta barat. Dari atas sini, aku dapat melihat ke semerawutan Ibu Kota yang sudah semakin padat ini. Di jam-jam pulang kerja seperti sekarang ini, terlihat jelas betapa kacaunya kemacetan di Ibu kota Negara Republik Indonesia ini.
Sebelum aku bunuh diri, aku berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan semua rasa kesalku terhadap dunia yang tidak pernah adil. aku berdiri sambil menatap matahari membayangkan aku dapat pergi dengan tenang hari ini. Mungkin esok aku tidak akan dapat menatap matahari lagi. Makanya, sebelum aku mati, aku mau menikmati prominensamu matahari untuk yang terakhir kalinya.
Meradang diantara pikiran kosong, aku mulai menutup mata dan menghitung mundur dari hitungan tiga sampai hitungan satu sebelum akhirnya aku menjatuhkan diri dari atas gedung ini.
“Pengecut!”
Anjrit, ada seseorang yang memukul kepalaku dari belakang sambil mengatakan bahwa aku ini pengecut. Aku sangat marah diperlakukan seperti ini, berani-beraninya orang ini memukul kepalaku dan menggagalkan aksi bunuh diri ku yang terakhir.
“Hey, siapa kamu? Berani-beraninya kamu memukul kepalaku dan bilang kalau aku ini pengecut!” Ungkapku marah.
“Terus, apa lagi namanya kalau bukan pengecut? Lu tau gak, apa yang mau lu lakuin barusan itu udah membuktikan kalau lu itu memang bener-bener pengecut. Hari gini mau bunuh diri hanya karena suatu masalah, enggak banget deh lu”
Shit, aku baru sadar bahwa baru saja aku berbicara dengan seorang perempuan. Demi mendapat penjelasan apakah wanita ini benar-benar berbicara denganku atau tidak, aku langsung bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang cukup bodoh.
“Apa kamu berbicara denganku?”
Yaiyalah, apa ada orang lain disini selain kamu?”
Enggak ada sih, tapi aku masih belum percaya kalau kamu bener-bener ngomong sama aku.” Sahut ku.
“Are you crazy? Baru aja gue marah-marah sama lu dan bilang kalo lu itu pengecut, terus lu bilang kalo lu gak percaya kalo gue ngomong sama lu? Bener-bener udah gila nih cowok.”
Lantas, wanita itu pergi meninggalkanku sendiri. Dan fix, lagi-lagi aku gagal bunuh diri karena kedatangannya yang secara tiba-tiba dan marah-marah sedemikian rupa. Hmm, padahal ini adalah izin terakhirku untuk dapat bunuh diri. Lagi-lagi, tuhan tidak mengizinkanku untuk mati.
 Entah harus senang atau sedih karena gagal bunuh diri. Yang jelas, ini adalah hari pertamaku bercengkerama dengan seseorang. Apalagi, orang yang tadi berbicara dengan ku adalah sosok wanita cantik yang telah menggagalkan aksi bunuh diriku. Andaikan dia tahu, kenapa aku jadi bersikap aneh saat ia memarahiku. Itu semua karena dia adalah orang yang pertama berbicara denganku selain guru-guruku disekolah.
Dengan terpaksa aku harus pulang ke rumah kost yang aku tempati sendiri dengan membawa tubuhku ini. Padahal, aku berharap agar aku dapat pulang kesini dengan hanya membawa nama.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar